Feb 15, 2017

Bende Mataram vs Legend of the Condor Heroes, Siapa yang Meniru Siapa?

 by Rully Tri Cahyono

Pertama kali saya membaca kedua cerita silat ini adalah waktu kelas dua SMA tahun 2002. Syaiful, teman satu kosan saya waktu itu adalah orang yang meracuni saya dengan kedua novel dan komik laris ini. Bende Mataram adalah yang terlebih dulu saya baca. Waktu itu Syaiful meminjam novel ini dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember yang kebetulan cuma berjarak dua gedung dari sekolah kami, SMAN 1 Jember. Awalnya saya hanya iseng membaca sekilas, tetapi ternyata ceritanya sangat menarik. Jadilah saya menamatkan membaca sampai buku ke-15, bahkan beberapa seri saya niatkan untuk mengoleksi. Bende Mataram adalah novel yang ditulis oleh Herman Pratikto di sekitar tahun 1980an. Sebelum dituangkan dalam bentuk novel, terlebih dahulu cerita ini mengudara lewat siaran radio.

Setelah tamat dengan cerita silat di tanah Jawa, sekitar tahun 2003, Syaiful memperkenalkan lagi cerita silat yang baru, judulnya Legend of the Condor Heroes. Cerita ini bentuknya komik yang seingat saya waktu itu terbit sebulan sekali. Kami patungan untuk meminjam komik ini dari tempat penyewaan komik, dan beberapa seri ada yang saya beli sendiri. Ketika saya lulus tahun 2004 dan melanjutkan kuliah di Bandung, komik yang terdiri dari 37 seri ini belum tamat. Jadilah saya menamatkan seri-seri terakhir waktu kuliah tingkat pertama. Seperti Bende Mataram, saya pun sangat menikmati cerita silat di komik Legend of the Condor Heroes yang berlatarbelakang di negeri Tiongkok. Komik ini dibuat oleh Lee Chi Ching yang merupakan adaptasi dari novel laris karangan Chin Yung tahun 1959. Bagi yang besar di tahun 1990an pasti ingat dengan serial ini yang ditayangkan di salah TV swasta (kalau tidak salah Indosiar) setiap sore hari.

Sejak pertama kali membaca kedua cerita silat ini, hal yang sangat menggelitik benak saya adalah kemiripan cerita keduanya. Bagi yang belum tahu, berikut coba saya berikan paparan ringkas babak pembukaan dari kedua cerita ini.

"Bende Mataram bercerita tentang lika-liku dua saudara angkat yang akhirnya saling memusuhi, Sangaji dan Sanjaya. Orangtua keduanya adalah sahabat karib yang terpaksa bercerai-berai akibat geger perebutan pusaka Bende Mataram dan keris Kyai Tunggulmanik. Ayah Sangaji dibunuh oleh Pangeran Bumigede, sedangkan ayah Sanjaya tidak ketahuan dimana rimbanya. Sanjaya dan Ibunya dibawa dan diasuh oleh Pangeran Bumigede, sedangkan Sangaji dan ibunya pada akhirnya tinggal di tangsi Kompeni Belanda di Jakarta. Merasa bersalah melibatkan orangtua Sangaji dan Sanjaya ke dalam huru-hara, Ki Hajar Karangpandan mengikat perjanjijan dengan Wirapati dan Jaga Saradenta untuk mengajari masing-masing anak silat dan mengadu keduanya dua belas tahun kemudian."

"Legend of The Condor Heroes bercerita tentang petualangan Kwee Ceng dan Yo Kang di dunia persilatan. Orangtua keduanya adalah saudara angkat yang terkena musibah kerusuhan negeri Song dan Kim. Ayah Kwee Ceng mati dibunuh orang-orang suruhan pangeran Kim, Wanyen Hong Lieh, dan ibunya terpaksa melarikan diri sampai ke Mongolia dan melahirkan puteranya disana. Ibu Yo Kang diculik oleh Wanyen Hong Lieh yang akhirnya memperisterinya dan merawat Yo Kang yang lahir di istana negeri Kim. Merasa bersalah melibatkan keluarga Kwee dan Yo, rahib Khu Chi Kee mengikat perjanjian dengan Kang Lam Liok Koay untuk mengajari kungfu ke kedua anak tersebut dan mengadu keduanya berpibu delapan belas tahun kemudian."

Ringkasan babak pembukaan ini secara gambang memperlihatkan bahwa terdapat relasi erat antara dua cerita ini. Pembaca dapat dengan mudah menebak bahwa Sangaji-Kwee Ceng dan Sanjaya-Yo Kang adalah dua tokoh dengan personifikasi yang sama. Cerita-cerita selanjutnya juga memiliki hubungan yang sangat erat. Sangaji dikisahkan dijodohkan dengan Sonny De Hoop, puteri seorang komandan Kompeni di Jakarta, Mayor De Hoop; di cerita satunya, Kwee Ceng dijodohkan dengan Gochin, yang merupakan puteri dari Temuchin, sang pemimpin Mongolia a.k.a. Jenghis Khan. Sangaji menganggap Sonny De Hoop tidak lebih sebagai teman mainnya, sedangkan Kwee Ceng menganggap Gochin tidak lebih dari adiknya sendiri. Pada akhirnya Sangaji bertemu pujaan hatinya Titisari, dan Kwee Ceng tertambat hatinya ke Oey Yong Jie. Keduanya dipersonifikasikan sebagai gadis yang sangat cantik, memiliki kecerdasan rata-rata, sedikit liar, dan anak pendekar besar. Titisari adalah anak Adipati Surengpati, Oey Yong Jie adalah anak Oey Yok Su si Sesat Timur.

Sangaji yang silatnya biasa-biasa saja kemudian bertemu tokoh sakti si jembel Gagak Seta dan diajarkan ilmu Kumayan Jati adalah cerita yang sangat sejalan dengan Kwee Ceng yang dungu dan kemudian menjadi tangguh saat bertemu si pengemis berjari sembilan Ang Cit Kong dan diajari jurus Hang Liong Sip Pat Ciang (18 jurus penakluk naga). Cerita juga diakhiri dengan babak yang sangat mirip. Sangaji dihadapkan pada pilihan harus bertarung di sisi Kompeni Belanda melawan tanah airnya sendiri atau meninggalkan Kompeni yang sudah merawat dia dan ibunya belasan tahun. Sedangkan Kwee Ceng menghadapi dilema saat Jenghis Khan menitahkannya untuk menyerang tanah airnya, Negeri Song, atau mengkhianati Khan yang sudah merawat dia dan ibunya selama dua puluh tahun.

Setelah melihat rentetan berbagai kemiripan cerita dari kedua cerita silat tersebut, wajar jika kemudian saya mempunyai dugaan bahwa pasti terdapat keterkaitan antara keduanya. Dulu waktu SMA, saya menduga bahwa kemiripan tersebut mungkin diakibatkan adanya pertukaran kebudayaan di masa lalu antara Sriwijaya/Majapahit dengan kerajaan Tiongkok jaman dahulu. Seperti yang kita ketahui, hubungan antara dua negara seringkali berimbas pada akulturasi kebudayaan, termasuk sastra. Contohnya, si Kera Sakti Sun Go Kong dari Tiongkok ceritanya juga dikenal di Jepang, meskipun ada beberapa perbedaan, dan terdapat hubungan yang erat antara Tiongkok dan Jepang pada masa lalu. Begitu pula cerita Panglima Hang Tuah yang juga dikenal di Malaysia dan Sumatera. Dalam kasus Bende Mataram dan Legend of the Condor Heroes, alur cerita sangat mirip, namun dibungkus dengan latar belakang yang berbeda. Cerita pertama berlatar belakang abad ke-19 yang mengetengahkan permusuhan antara pribumi Keraton Yogyakarta melawan penjajah Kompeni Belanda. Sedangkan cerita kedua dibalut pada abad ke-13 dengan lakon permusuhan antara pribumi Song dengan penjajah Kim dan Mongolia.

Dugaan-dugaan yang saya paparkan di paragraf sebelumnya itu juga dilatarbelakangi aksentuasi yang selalu dimunculkan oleh Herman Pratikto bahwa novelnya tersebut diilhami dari Babad Tanah Jawa. Sumber ini seperti kita tahu penuh dengan sejarah dan mitos yang bisa saja dipengaruhi oleh budaya Tiongkok hasil interaksi Jawa dengan Tiongkok di masa lalu. Namun, setelah akhir-akhir ini saya membaca ulang komik Legend of the Condor Heroes, hipotesis awal saya tersebut mulai buyar, dan jadilah saya mengemukakan hipotesis tandingan bahwa keterkaitan kedua cerita silat ini terletak pada pencontekan ide semata, atau dalam bahasa ilmiahnya disebut plagiasi, satu pengarang mencontek ide dari pengarang yang satunya. Sekarang pertanyaannya, siapa yang mencontek dan siapa yang dicontek? Lagi-lagi saya mengungkapkan dugaan bahwa Herman Pratikto lah yang mencontek Chin Yung. Alasannya sederhana, novel Chin Yung terbit 20 tahun lebih dahulu dari novel Herman Pratikto. Dugaan ini coba saya jelaskan dengan beberapa alasan di paragraf-paragraf selanjutnya.

Pertama, waktu terbit, seperti yang sudah saya jelaskan. Dua puluh tahun (dari tahun 1959 ke tahun 1980-an) jelas waktu yang cukup bagi Herman untuk mengambil ide utama dari novel Chin Yung, menambahkan idenya sendiri, dan membungkusnya dengan sejarah Jawa. Tahun-tahun tersebut juga masa dimana akses informasi tidak semudah sekarang. Dengan keterbatasan akses masyarakat Indonesia untuk membaca novel Chin Yung, Herman pun jadi cukup "leluasa" untuk mengambil ide dari novel Chin Yung. Kedua, kalau benar Bende Mataram ceritanya murni diambil dari Babad Tanah Jawa, terlalu banyak kejadian ataupun tokoh di novel itu yang tidak dikenal oleh sejarah. Kalau pembaca cermat mengamati, Sangaji, Sanjaya, Titisari Gagak Seta, Adipati Surengpati, Kapten De Hoop dan Kyai Kasan Kesambi tidak pernah disinggung dalam sejarah. Fenomena ini cukup aneh, Gagak Seta, Adipati Surengpati, dan Kyai Kasan Kesambi adalah pendekar-pendekar nomor wahid. Sebagaimana lazimnya pendekar jaman dahulu, mereka juga menggalang pasukan untuk melawan Kompeni Belanda, tetapi jejak ketiganya tidak ada di catatan sejarah. Himpunan Sangkuriang yang disebut dipimpin oleh Sangaji pun tidak pernah terdengar di catatan sejarah. Herman Pratikto memang menyebutkan beberapa tokoh yang kita kenal baik di sejarah seperti Mangkubumi I, Pangeran Samber Nyawa, Kyai Tapa dan Ratu Bagus Boang, tetapi peran mereka di novel tersebut sangat minim, dan keempatnya diceritakan sudah meninggal. Sedangkan untuk Legend of the Condor Heroes, terasa bahwa nuansa sejarah lebih digarap dengan baik oleh Chin Yung. Relasi antara Dinasti Song, Dinasti Kim dan Mongolia bisa ditelusuri dengan baik di sejarah. Begitu pula beberapa tokoh seperti Ong Tiong Yang, Rahib It Teng, Temuchin, Jebe dan Mukhali dicatat di buku-buku sejarah.

Ketiga, terlalu banyak rincian cerita pendukung di Bende Mataram yang sungguh mirip dengan plot di Legend of the Condor Heroes. Misalnya, persyaratan yang diajukan Adipati Surengpati kepada Sangaji dan Dewaresi untuk menentukan siapa calon suami Titisari adalah sangat mirip dengan persyaratan yang diajukan Oey Yok Su kepada Kwee Ceng dan Auwyang Hok untuk memperebutkan Oey Yong Jie. Persyaratan tersebut adalah adu kungfu, pengetahuan lagu tradisional, dan hapalan jurus silat. Kemudian gerakan bergulingan di tanah Gagak Handaka waktu melawan Adipati Surengpati adalah persis seperti gerakan yang sama yang dilakukan Ciu Pek Thong waktu melawan Oey Yok Su. Gagak Seta yang mau menurunkan ilmunya ke Sangaji karena terpikat kepandaian memasak Titisari tentunya diilhami dengan cerita Ang Cit Kong yang mengajari Kwee Ceng jurus tangguh setelah sang guru makan masakan-masakan enak Oey Yong Jie. Begitu pula dengan adegan dimana Titisari ingin menusuk mata Nuraini karena cemburu juga mirip dengan cerita dimana Oey Yong Jie ingin menusuk mata Bok Liam Cu, kalau Titisari akhirnya dipergoki Gagak Seta, Oey Yong Jie dipergoki oleh Ang Cit Kong.

Berdasarkan ketiga alasan tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa memang terdapat indikasi yang kuat Herman Pratikto mengambil ide dari novel karangan Chin Yung. Tetapi bukan berarti dengan kesimpulan ini saya lantas mendiskreditkan Herman Pratikto. Tidak, sama sekali tidak. Bende Mataram adalah salah satu novel favorit saya, dan ini pastilah karena pengarangnya yang brilian. Menjiplak ide dari novel sebesar Legend of the Condor Heroes tidak langsung menjamin cerita hasil jiplakan akan bagus juga. Apalagi dalam hal ini Herman harus mengejawantahkan cerita silat Tiongkok tersebut ke dalam latar belakang cerita bernapaskan Jawa, tentu tidaklah mudah. Herman dengan sangat baik mengadaptasi novel Chin Yung ke dalam tataran Jawa, dari mulai menyinggung bahwa pusaka Bende Mataram, Keris Kyai Tunggulmanik dan Jala Karawelang sebagai pusaka tanah Jawa, intrik perebutan kekuasaan di Keraton Yogyakarta, dan pemberontakan terhadap Belanda. Selain itu, tentunya Herman juga telah berhasil menanamkan rasa nasionalisme Indonesia di dalam novelnya. Terbukti dengan babak dimana Sangaji berpindah ke Jawa Barat untuk memimpin Himpunan Sangkuriang, adegan ini mengajarkan bahwa sudah sepatutnya perjuangan melawan penjajah Belanda dilakukan oleh segenap wilayah di Indonesia. Puncaknya, novel ini sudah penuh berisi semangat kejantangan dan budi pekerti luhur yang terekam dengan baik dari interaksi berbagai tokohnya. Membaca novel Bende Mataram seperti melihat miniseri dari cerita wayang Jawa yang napasnya juga kurang lebih sama, dan hal inilah yang menurut saya telah membuat novel ini menjadi legenda bagi masyarakat Indonesia.


Groningen, 23 Mei 2013

(saat mencari informasi karya-karya Herman Pratikto, tidak sengaja menemukan tulisan ini di facebook. menarik dibaca)

Profil Herman Pratikto

HERMAN PRATIKTO lahir di Blora, Jawa Tengah, 18 Agustus 1929 dan meninggal 13 Februari 1987. Semasa hidup, banyak sekali karangan yang telah dihasilkannya. Selain karya sastra klasik Timur, yang diceritakan kembali, seperti Hamba Sebut Paduka Ramadewa (Ramayana) dan Mahabharata, masih ada lagi sejumlah buku yang ditulisnya. Buku Bende Mataram yang merupakan ka­rya best seller-nya di paruh waktu tahun 1960-an, pernah dibuat sinetron, drama radio, ketoprak, cerita bersambung bahkan komik.

Buku lainnya yaitu Mencari Bende Mataram; Patih Lawa Ijo; Bunga Ceplok Ungu Dari Banten; Pedang Sakti Tunggul Wulung; Melawat Ke Barat; Jalan Simpang Di Atas Bukit; Gledek di Loano; Bulan Jatuh Di Lereng Gunung; Bayar Nyawa Ayahku; dan Pedang Sakti Tongkat Mustika. Disamping karya-karya yang latar belakang penceritaannya sarat dengan napas budaya dan silat jawa, ia juga membuat karya tulis berdasarkan kisah sejarah, antara lain Dari Westerling Sampai Kartosuwiryo dan Nikolas II. Masih ada beberapa lagi karyanya yang lain, seperti Bunga Bangsa; Kusuma Ria dan lain-lain berbentuk cerpen, yang tidak terdokumentasi.

Herman yang ketika muda juga senang berteater dan siaran drama di radio, juga seorang penulis skenario film. Yakni flm Si Midah Bergigi Mas; Rela; Semalam di Solo; Warok Suramenggala; dan Desa yang Dilupakan. Selama hidupnya disamping menulis, juga hobi melukis dan mencipta lagu. Seniman tulen yang komplet ini juga mendalami seni pedalangan (wayang kulit). Beberapa kali mendalang wayang purwa di berbagai tempat dan kalangan. Ia pun seorang budayawan dan Javanolog. Pengasuh siaran berbahasa Jawa di beberapa radio mengenai kebudayaaan Jawa serta seputar masalah seni pewayangan. Ia hidup dan menghidupi keluarganya hanya dari hasil menulis dan berkesenian. Ia betul-betul seorang seniman murni.

Menulis sejak masa mudanya dengan nama samaran Sedah Mi­rah, Herman pernah pula bekerja di bidang jurnalistik (wartawan). Ia salah seorang pendiri Majalah Mingguan Minggu Pagi (sekarang menjadi koran) di Yogyakarta, dan pernah bekerja di Harian Nasio­nal, di kota yang sama, sebagai Pimpinan Redaksi Kebudayaan & Seni. Sekitar tahun 1957, pernah pula bekerja di Jawa Pos ketika tinggal di Surabaya.

Ia seorang otodidak, tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang seni, sastra dan budaya, akan tetapi banyak membaca buku tentang filsafat, sejarah, seni, sastra budaya, dan lain-lain. Pernah kuliah di Fakultas Hukum & Pengetahuan Masyarakat, di Yogyakarta, namun tak selesai.

Sumber: http://buku.kompas.com/Penulis/Herman-Pratikto.aspx

Feb 10, 2017

Daftar Lengkap Cerita Silat Kho Ping Hoo

Daftar Karya Cersil Kho Ping Hoo

JUDUL LEPAS SILAT MANDARIN, terdiri dari 37 Judul:
1. Antara Dendam dan Asmara (Jilid 1–30) : 105.000
2. Bayangan Bidadari (Jilid 1–21) : 73.500
3. Cheng-Hoa-Kiam (Jilid 1–26) : 104.000
4. Darah Pendekar (Jilid 1–32) : 112.000
5. Dendam Membara (Jilid 1–4) : 14.000
6. Dendam Si Anak Haram (Jilid 1–13) : 45.500
7. Gin-Kiam Gi-To (Jilid 1–6) : 21.100
8. Kilat Pedang Membela Cinta (Jilid 1–9) : 31.500
9. Kisah Si Tawon Merah dari Bukit Heng-San (Jilid 1–13) : 46.000
10. Kisah Tiga Naga Sakti (Jilid 1–43) : 172.000
11. Kun-Lun Hiap-Kek (Jilid 1–8) : 28.000
12. Liong-San Tung-Hiap (Jilid 1–7) : 24.500
13. Mustika Golok Naga (Jilid 1–10) : 35.000
14. Ouw-Yang Heng-Te (Jilid 1–7) : 24.500
15. Patung Dewi Kwan-Im (Jilid 1–17) : 60.800
16. Pedang Asmara (Jilid 1–34) : 119.000
17. Pedang Pusaka Thian-Hong-Kiam (Jilid 1–20) : 70.600
18. Pembakaran Kuil Thian-Lok-Si (Jilid 1–7) : 24.500
19. Pendekar Baju Putih (Jilid 1–11) : 39.000
20. Pendekar Bunga Merah (Jilid 1–9) : 31.500
21. Pendekar Cengeng (Jilid 1–17) : 60.000
22. Pendekar dari Hoa-San (Jilid 1–5) : 17.500
23. Pendekar Gila (Jilid 1–9) : 31.500
24. Pendekar Pemabuk (Jilid 1–18) : 64.100
25. Pusaka Gua Siluman (Jilid 1–21) : 74.400
26. Rajawali Lembah Huai (Jilid 1–13) : 46.800
27. Sakit Hati Seorang Wanita (Jilid 1–13) : 46.300
28. Sepasang Rajah Naga (Jilid 1–32) : 112.000
29. Si Naga Merah Bangau Putih (Jilid 1–7) : 24.700
30. Si Rajawali Sakti (Jilid 1–17) : 60.800
31. Si Tangan Halilintar (Jilid 1–22) : 77.000
32. Si Teratai Emas (Jilid 1–13) : 46.300
33. Suling Pusaka Kemala (Jilid 1–29) : 101.500
34. Tiga Dara Pendekar Siauw-Lim (Jilid 1–9) : 36.500
35. Toat-Beng Mo-Li (Jilid 1–7) : 24.500
36. Pek I Lihiap (Jilid 1–6) : 21.000
37. Ouw Bin Hiap Kek (Jilid 1–7) : 24.500

SERIAL BU-KEK SIAN-SU, terdiri dari 17 Judul:
1. Bu-Kek Sian-Su (Jilid 1–24) : 97.000
2. Suling Emas (Jilid 1–35) : 123.000
3. Cinta Bernoda Darah (Jilid 1–33) : 132.000
4. Mutiara Hitam (Jilid 1–31) : 124.000
5. Istana Pulau Es (Jilid 1–39) : 156.000
6. Pendekar Bongkok (Jilid 1–26) : 104.000
7. Pendekar Super Sakti (Jilid 1–42) : 169.000
8. Sepasang Pedang Iblis (Jilid 1–50) : 200.500
9. Kisah Sepasang Rajawali (Jilid 1–57) : 228.000
10. Jodoh Rajawali (Jilid 1–62) : 217.000
11. Suling Emas Naga Siluman (Jilid 1–51) : 204.000
12. Kisah Para Pendekar Pulau Es (Jilid 1–32) : 128.000
13. Suling Naga (Jilid 1–29) : 117.000
14. Kisah Si Bangau Putih (Jilid 1–30) : 120.000
15. Si Bangau Merah (Jilid 1–25) : 100.000
16. Si Tangan Sakti (Jilid 1–18) : 63.200
17. Pusaka Pulau Es (Jilid 1–18) : 72.000

SERIAL DEWI SUNGAI KUNING, terdiri dari 2 Judul:
1. Dewi Sungai Kuning (Jilid 1–3) : 11.800
2. Kemelut Kerajaan Mancu (Jilid 1–14) : 50.000

SERIAL GELANG KEMALA, terdiri dari 3 Judul:
1. Gelang Kemala (Jilid 1–18) : 63.000
2. Dewi Ular (Jilid 1–15) : 53.200
3. Rajawali Hitam (Jilid 1–15) : 54.300

SERIAL IBLIS DAN BIDADARI, terdiri dari 2 Judul:
1. Iblis dan Bidadari (Jilid 1–6) : 21.700
2. Lembah Selaksa Bunga (Jilid 1–14) : 50.100

SERIAL JAGO PEDANG TAK BERNAMA, terdiri dari 4 Judul:
1. Jago Pedang Tak Bernama (Jilid 1–4) : 15.100
2. Kisah Sepasang Naga (Jilid 1–10) : 35.200
3. Pedang Ular Merah (Jilid 1–12) : 43.500
4. Pedang Pusaka Naga Putih (Jilid 1–7) : 28.000

SERIAL KASIH DI ANTARA REMAJA (2 Judul, diterbitkan dalam 1 Judul)
1. Kasih di Antara Remaja
2. Darah Patriot
Diterbitkan dalam 1 judul: Kasih di Antara Remaja (Jilid 1–22) : 77.000

SERIAL KISAH SI NAGA LANGIT, terdiri dari 2 Judul:
1. Kisah Si Naga Langit (Jilid 1–23) : 80.500
2. Jodoh Si Naga Langit (Jilid 1–16) : 56.000

SERIAL KISAH SI PEDANG KILAT (2 Judul, diterbitkan dalam 1 Judul)
1. Kisah Si Pedang Kilat
2. Pedang Kilat Membasmi Iblis
Diterbitkan dalam 1 judul: Kisah Si Pedang Kilat (Jilid 1–18) : 63.500

SERIAL MESTIKA BURUNG HONG KEMALA, terdiri dari 3 Judul:
1. Mestika Burung Hong Kemala (Jilid 1–13) : 46.300
2. Kisah Si Pedang Terbang (Jilid 1–13) : 53.000
3. Pedang Awan Merah (Jilid 1–13) : 46.800

SERIAL NAGA SAKTI SUNGAI KUNING, terdiri dari 2 Judul:
1. Naga Sakti Sungai Kuning (Jilid 1–26) : 91.000
2. Naga Beracun (Jilid 1–34) : 119.000

SERIAL PEDANG KAYU HARUM, terdiri dari 12 Judul:
1. Pedang Kayu Harum (Jilid 1–49) : 172.700
2. Petualang Asmara (Jilid 1–50) : 175.000
3. Dewi Maut (Jilid 1–43) : 151.800
4. Pendekar Lembah Naga (Jilid 1–57) : 228.000
5. Pendekar Sadis (Jilid 1–42) : 147.000
6. Harta Karun Jenghis Khan (Jilid 1–6) : 21.000
7. Siluman Gua Tengkorak (Jilid 1–5) : 18.300
8. Asmara Berdarah (Jilid 1–39) : 136.500
9. Pendekar Mata Keranjang (Jilid 1–48) : 192.000
10. Si Kumbang Merah Pengisap Kembang (Jilid 1–32) : 128.000
11. Jodoh Si Mata Keranjang (Jilid 1–22) : 77.000
12. Pendekar Kelana (Jilid 1–20) : 70.300

SERIAL PENDEKAR BUDIMAN, terdiri dari 3 Judul:
1. Pendekar Budiman (Jilid 1–19) : 76.000
2. Pedang Penakluk Iblis (Jilid 1–34) : 119.000
3. Tangan Geledek (Jilid 1–33) : 116.800

SERIAL PEDANG NAGA KEMALA, terdiri dari 2 Judul:
1. Pedang Naga Kemala (Jilid 1–29) : 103.000
2. Pemberontakan Taipeng (Jilid 1–18) : 63.000

SERIAL PEDANG SINAR EMAS (3 Judul, diterbitkan 1 Judul)
1. Si Alis Merah ( Ang-Bi-Tin / Bi-Hong Sin-Liong )
2. Pulau Tiga Naga ( Sam-Liong-To )
3. Pedang Sinar Emas (Kim-Kong-Kiam)
Diterbitkan dalam 1 judul: Pedang Sinar Emas (Jilid 1–40) : 140.000

SERIAL PENDEKAR SAKTI, terdiri dari 4 Judul:
1. Pendekar Sakti (Jilid 1–37) : 148.000
2. Dara Baju Merah (Jilid 1–20) : 71.100
3. Pendekar Bodoh (Jilid 1–36) : 126.000
4. Pendekar Remaja (Jilid 1–30) : 105.000

SERIAL PENDEKAR TANPA BAYANGAN, terdiri dari 2 Judul:
1. Pendekar Tanpa Bayangan (Jilid 1–19) : 77.500
2. Harta Karun Kerajaan Sung (Jilid 1–13) : 53.000

SERIAL RAJA PEDANG, terdiri dari 4 Judul:
1. Raja Pedang (Jilid 1–25) : 87.700
2. Rajawali Emas (Jilid 1–30) : 105.000
3. Pendekar Buta (Jilid 1–26) : 104.000
4. Jaka Lola (Jilid 1–25) : 100.000

SERIAL SEPASANG NAGA LEMBAH IBLIS, terdiri dari 2 Judul:
1. Sepasang Naga Lembah Iblis (Jilid 1–12) : 43.000
2. Pedang Naga Hitam (Jilid 1–17) : 60.000

SERIAL SEPASANG NAGA PENAKLUK IBLIS, terdiri dari 3 Judul:
1. Sepasang Naga Penakluk Iblis (Jilid 1–18) : 63.000
2. Bayangan Iblis (Jilid 1–10) : 35.000
3. Dendam Sembilan Iblis Tua (Jilid 1–9) : 31.500

SERIAL SI PEDANG TUMPUL, terdiri dari 2 Judul:
1. Kisah Si Pedang Tumpul (Jilid 1–10) : 35.000
2. Asmara Si Pedang Tumpul (Jilid 1–16) : 56.000

SERIAL SI TERATAI MERAH (3 Judul, diterbitkan 1 Judul)
1. Si Teratai Merah
2. Hwee-Thian Kim-Hong
3. Si Walet Hitam (Ouw-Yan-Cu)
Diterbitkan dalam 1 judul: Si Teratai Merah (Jilid 1–25) : 87.500

JUDUL LEPAS SILAT INDONESIA, terdiri dari 12 Judul:
1. Asmara di Balik Dendam Membara (Jilid 1–13) : 45.500
2. Bajak Laut Kertapati (Jilid 1–3) : 10.500
3. Banjir Darah di Borobudur (Jilid 1–7) : 25.400
4. Jaka Galing / Tombak Pusaka Kyai Santanu (Jilid 1–4) : 14.000
5. Kemelut di Majapahit (Jilid 1–37) : 129.500
6. Keris Pusaka dan Kuda Iblis / Jarot Pahlawan Perkasa (Jilid 1–5) : 18.800
7. Keris Pusaka Nogopasung (Jilid 1–11) : 38.500
8. Kidung Senja di Mataram (Jilid 1–12) : 42.000
9. Pendekar Gunung Lawu (Jilid 1–5) : 17.500
10. Dara Perkasa Ratna Wulan (Jilid 1–6) : 21.500
11. Rondokuning Membalas Dendam (Jilid 1–6) : 21.300
12. Satria Gunung Kidul / Saritama (Jilid 1–3) : 10.500

SERIAL KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA, terdiri dari 5 Judul:
1. Keris Pusaka Sang Megatantra (Jilid 1–22) : 77.000
2. Nurseto, Ksatria Karangtirta (Jilid 1–20) : 81.500
3. Badai Laut Selatan (Jilid 1–39) : 156.000
4. Perawan Lembah Wilis (Jilid 1–48) : 168.000
5. Sepasang Garuda Putih (Jilid 1–16) : 56.000

SERIAL PECUT SAKTI BAJRAKIRANA, terdiri dari 5 Judul:
1. Pecut Sakti Bajrakirana (Jilid 1–17) : 59.500
2. Seruling Gading (Jilid 1–24) : 84.000
3. Alap-Alap Laut Kidul (Jilid 1–29) : 101.500
4. Bagus Sajiwo (Jilid 1–21) : 74.000
5. Kemelut Blambangan (Jilid 1–22) : 77.000

SERIAL SEJENGKAL TANAH SEPERCIK DARAH (2 Judul, diterbitkan 1)
1. Sejengkal Tanah Sepercik Darah
2. Geger Singosari dan Majapahit
Diterbitkan dalam 1 judul: Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Jilid 1–23) : 80.500

Data: CV GEMA
https://www.facebook.com/cvgema/

Pusaka Naga Siluman, S. Djatilaksana

Pusaka Naga Siluman
S. Djatilaksana
Terbitan UP. Margadjaja 1967
Jilid 1-34

API BUKIT MENOREH, SH Mintardja


S.H Mintardja
Foto: Mas Irawan

ISTANA YANG SURAM, SH Mintardja

ISTANA YANG SURAM SH Mintardja
Foto: Mas Irawan

MATAHARI ESOK PAGI, SH Mintardja

MATAHARI ESOK PAGI, SH Mintardja
Foto: Mas Irawan